Minggu, 22 April 2018

Yang terendap dan yang mengambang



***

Ketika subuh perlahan merambat dan pasti mengantarkan pagi dengan riuh kicau burung dan hiruk-pikuk, aktivitas orang-orang seperti menembus dinding memenuhi rumah-rumah, benak yg sesak tapi tak penuh-penuh. Ingatan dan bayang yang berkelebatan tetap sama meski setiap saat terus mengolah diri menjadi masa lalu. Masa depan terus mengisut menjadi masa kini, dan lantas segera menjadi masa lalu. 

Di dalam ruang bergolaknya sang waktu ketenangan menjelma kegelisahan pada setiap ingsutannya. Malam-malam murni seolah cemar oleh bayang yg diharapkan tapi tak nyata-nyata. Sang benak yg dijinakkan, atau dicoba dijinakkan, keliarannya makin menjadi-jadi. Di permukaan semua terlihat tenang. Tapi siapa sangka di kedalaman ada gejolak yg mendidih-didih.

Siang tiba, dan pikiran masih sama yg kemarin. Satu dua perbincangan teringat-ingat bukan cuma satu dua kali. Seperti chip yg benam dalam otak, ia menyimpan semua obrolan di dalam memori tak terhapuskan. Perbincangan yg membangkitkan semangat dan menumbuhkan harapan adalah daya yg membangkitkan hidup. Ketika semua melampaui batas imaji—adakah imaji yg berbatas?—semua seperti tak terkendali. Kuasa diri malah dikuasai oleh kuasa lain yg tak terkuasai. Siang berbeda, tapi benak masih sama isinya dengan siang yg kemarin, dan siang-siang sebelumnya. 

Aku bertanya kepadamu:”Apa artinya perbincangan-perbincangan jika setelahnya benak tak bisa henti dan lelap—yg seharusnya dibawa oleh sang tidur—seperti menjadi jauh?” 

Waktu terus berjalan, dan rupa-rupa di benak seperti tak bersalin, tak berganti. Ia tak benam oleh masa. Di dalam benak, waktu dan jarak bagaikan nihil. Itulah berkahnya menghayal, atau tepatnya menghayali kamu. Tapi semudah dan seindah-indahnya berfantasi, tetap saja nyata jelas lebih bagus. Itulah kenapa di ujung hahal selalu menyisakan  penasaran. Sebab faktanya kita hidup di alam nyata. Itu pula sebabnya kita seperti mengemban tugas dari dan oleh diri sendiri untuk mewujudkan semua itu. 

Tapi puisi cinta tak dibaca. Sementara surat-surat belum juga rampung ditulis. Hanya lukisan wajah dan bayang masa depan denganmu yg tegas, meski, sekali lagi, semua di benak belaka. 

Sudah pernah aku bilang kepadamu tentang satu niat baik dengan segala niat-niat ikutannya. Bahwa aku tulus dengan semua itu, tentu seharusnya tak perlu dikatakan. Tulus tergerus oleh ucap. Biarlah tulus menceritakan dirinya sendiri. Ketulusan yg kerap dimetaforkan sebagai lilin. Tapi aku tak memilih menjadi lilin. Itu terlalu fatal menurutku. Maka aku memutuskan ingin menjadi napas hidupmu. Mungkin kelak aku menyerah pada akhirnya, tapi belum saat ini. Bukan sekarang waktunya. 
Tak padam semangat yg sedang berkobar-kobar hanya oleh satu dua pengabaian. Pengabdian ini terlalu kuat untuk dilemahkan. Pemujaan terlalu besar untuk diciutkan. 

Tahukah kau di mana batas perjuangan untuk menyerah, atau disebut menang? 

Aku tidak tahu. Maka beritahu aku jika kelak bisa menerangkannya kepadaku dengan cara yg masuk akal. Aku rasa hatiku telah kau rasuki sangat dalam sampai tak bisa lagi rasional tentang batas-perbatasan. Segala telah teretas. Anehnya, aku menikmatinya. 

Mengapa kamu begitu tegar merawat harapan, sedangkan bayangan pun hanya datang dan pergi? Tanyamu ketika senja mulai pajangkan jingganya ketika lazuardi beranjak pelan. 

Tanpa harapan, sedetik pun kau tak bisa hidup. 

Dalam hamparan kehidupan terbentang pilihan begitu banyak. Aku tak mau serakah. Cukuplah bagiku memilih satu. Aku rasa, satu ini pun sudah meliputi semuanya. Begitulah aku bersyukur. Bagiku, kamu, yg intim dalam benak ini, sudah mencakup semua yg pernah ada dan yg akan ada. 

Akh, kamu berlebihan. Hanya karena sedang tertawan oleh dia yg terpuja, tak berarti kamu kehilangan akal sehat. Begitu sanggahmu. 

Tapi kenyataannya aku tidak gila. Kewarasankulah yg memujamu. Segalanya sudah kupertimbangkan matang-matang. 

Tapi kedengarannya kamu sedang begitu. 

Itulah sebabnya niat baik selalu beradu dengan niat lain beserta penyangkalannya. Kamu selalu mencurigainya. Mestinya kamu menjadi diriku, bahkan cukup dengan sedetik saja, agar kamu bisa pahami yang aku alami. Sulit kau mengerti jika tak mencoba berempati. 

Kau sulit membedakan antara takdir, yang dalam keyakinanmu melibatkan kuasa sang mahakuasa, dengan hasratmu sendiri. Kau menolak yg datang dengan memgatasnamakan sang penguasa segala kuasa. Seolah pikiranmu terhubung penuh, lalu semua keputusanmu adalah sesuai dengan rencana dan keinginan sang mahakuasa. Kau harus singkirkan buruk sangka, yg tidak kau sadari itu, untuk melihat kejernihan dari yg kau sangkakan kerancuan itu. 

Lalu bagaimana kau bisa meyakini bahwa niat, yang kau sebut niat baik itu, sebagai sesuatu yg murni, jernih, tulus, dan tunggal tak berkesudahan?

Kita semua memiliki batin. Berjiwa. Kita bersukma. Hati kita bisa berkata. Kalau kau memgenal dirimu dengan sangat baik, maka kau akan tahu mana yg mengakar dan sekadar menempel. Kau akan bisa membedakan mana yang dibutuhkan atau sekadar berpuas-puas hasrat. 

Jadi, masihkah keras kepala juga? Renungkanlah lagi. Selalu ada jeda dalam laju kencang sang waktu. Gunakanlah untuk berbincang dengan jiwamu sendiri. 

Beri aku waktu.

Waktu? Bukan hanya waktu, selurih diriku pun akan berikan. 

Kesempatan. Maksudku, kesempatan. 

Itu juga. Apalah yg tak bisa untukmu. Semua kesempatanku menghamba kepadamu. Kamulah yg menentukan segala peluangku. 

Aku bukan tuhan. 

Memang. Tapi aku kadang tak bisa membedakannya. Kau membawa-bawanya ke dalam semua ucapan dan keputusanmu. Sepertinya tuhan sia-sia memberimu akal sebab kamu mengistirahatkannya setiap kali berhadapan pilihan. 

Jangan menghakimi. Kamu juga jadi terdengar seperti hakim. 

Kamu juga telah menghakimiku lebih dulu dengan menetapkan ketidaklayakanku atas hayalan dan harapan yg melibatkanmu. 

Kamu menghakimi lagi. 

Kapan dan di mana aku bisa tepat? Di hatimu pun aku tak kebagian ruang. 

Itu terlalu jauh melenceng. Jangan memaksakan perdebatan ke arah yg keliru, meski kau sangat menginginkan begitu.

Apakah mencitaimu itu suatu kekeliruan?

Mungkin.

Katakan dengan tegas.

Barangkali.

Kau makin mahir.

Mahir apanya?

Bermain-main. Tapi tak apa. Perasaanku sudah intim dipermainkan oleh bayanganmu. 

Jangan terlalu membayangkan. Diikuti bayangan itu akan membuat hidupmu serupa laknat. 

Tapi lari dari bayangan juga itu hianat.

Kalau begitu buatlah hidupmu nikmat. 

Maka kemarilah!

***

Fajar benar-benar berlalu. Pagi rekah dan mentari mengirimkan sinarnya dari celah pepohonan. Itulah saat kau pergi dengan kisah yg telah kau bagikan. Pengalaman yg terendapkan lapis-lapis masa. 

Sudah terang. Saya harus balik. Begitu katamu. 

Diam-diam kusimak kisahmu. Aku malah menemukan diri dalam kisahmu. Mengambang.


Ternate, 22 April 2018.









Sabtu, 14 April 2018

Cinta, jangan benci



Kalau bisa mengabarkan cinta dengan indah, maka tak perlu repot menjejali otak dengan dampratan, atau mengumpulkan bertumpuk hasutan dan kebencian. Tentu saja bisa. 

Cinta itu seperti pohon. Dipangkas, ia bertunas. Benci, atau sejenisnya, hanya menjadikan hidup meranggas luruh.

 Bercintalah! Selamat menikmati hari Minggu lebih awal!


Ternate, 15 April 2018

Jumat, 13 April 2018

Menafsir Penafsir

“Lagi jatuh cintakah?”

Begitulah salah satu pertanyaan di tengah-tengah perbincangan melalui ‘messenger’. Mungkin karena belakangan 'terbaca' seperti itu dari unggahan-unggahan yg ada.

“Cinta harus dikabarkan, bahkan yang sebatas imaji sekali pun.”

Kata ditulis, selanjutnya dibaca dan ditafsirkan. Kita terpaut atau lepas darinya, ia jelas menancap di sana.

Sambil menyantap sisa makan siang malam ini, saya memikirkan pertanyaan itu. Lantas saya terpikir hal lain.

Andaikan kita menuliskan hal-hal baik, hal-hal menggembirakan—apalagi hal-hal menyangkut CINTA, semua ditulis kapital!– maka yang terduga dari penafsirnya adalah tentu saja hal-hal yang kita tulis-kabarkan itu.

Katakanlah, saya menuliskan hal-hal sebaliknya: kebencian, keputusasaan, kenyinyiran, penyangkalan kasar, pembelaan buta, dst. Maka, kemungkinan pertanyaannya menjadi:

”Sehatkah dirimu?”

Pertanyaan itu bukan karena perduli, melainkan semacam sarkasme. Majas yg digunakan untuk menyinggung saja.

Ini bukan pikiran baru. Sudah banyak yang pernah mengatakan atau menuliskan ini. Mulai dari awam hingga ilmuwan; dari yang buntu-buntu hingga yang sungguh-sungguh.

Karena itu, kabarkanlah cinta. Ceritakan hal-hal baik. Tak perlu menghakimi, atau mencerca sikap tertentu hanya karena berbeda dengan kita. Tunjukkan kerianggembiraan agar orang tak bersedih hanya karena hinaan yang dibuat-buat dari alasan yang mengada-ada. Jangan hinakan seluruh cinta dengan satu hasutan.

Satu hal pasti adalah, bahwa cinta masih ada. Selalu ada. Tak peduli berapa kali ia diempas-lepaskan, ia tak tergerus. Berpindah-pindah subjek, cinta selalu satu rupa: ia memuja. Rupanya tak pernah bersalin hingga pamit terakhir dari hati tempatnya memuja.

Tak perlu ragu untuk melakukan itu. Harus ada yang melanjutkan kisah Don Juan (ekh!). Sebab kalau tidak begitu, mereka malah menuduh 'belum move on". Padahal, itu sudah lama terjadi 'kan?

Karena itu, menemukan yang baru sekarang ini adalah alasan bagi sebongkah kebahagiaan. Nyata atau tidak, faktual atau hayali, tak usah pedulikan. Haha...

“Apakah saya jatuh cinta?”

Saya ingin sekali menjawab "Iya" dengan lantang. Tapi hujan menenggelamkan dengan renyainya yang kian nyaring.

Dia yang lebih tahu. Sejatinya begitu.

Aku mencintaimu!

Itu pula yang seharusnya kau katakan kepadaku.

Kamis, 12 April 2018

La Cundekke
***
Sebenarnya saya sedang jatuh cinta! Memang itulah kenyataannya. Bukan karena sedang tak tertarik dengan berita-berita politik, yang perbincangannya diisi oleh orang-orang yang saling mencerca. Hujatan seolah merajai perbincangan. Sementara pujian semakin langka saja tampaknya. Cinta entah ke mana…
Aku memilih cinta sebab begitulah seharusnya memang. Cinta itu tak sekadar perasaan meluap-luap. Ia juga bukan hanya keinginan yang terpenuhi –yang kalau ditolak lantas membenci. Ia adalah kemurnian yang tak bisa cemar oleh apapun. Tidak akan kusam berapa pun lamanya dipendam.
Maka, kepada La Cundekke—anggap saja namanya begitu. Itu yang terlintas di benakku saat bermaksud menyamarkannya—saya pernah berbagi hikmah.
“Saya tak bisa melupakannya, bahkan sampai ia menolakku,” katanya terdengar putus asa. Saya sarankan untuk mencoba jatuh cinta pada yang lain. La Cundekke menampik. Pelan-pelan digaruk juga kepalanya dengan mata sedikit mengerling. “Kau tak yakin, Cowok!” batinku.
Di tengah keterpurukannya, ia memutuskan hal lain lagi. “Saya akan tetap mencintainya. Tak perlu ia tahu,” lanjutnya sambil terus menuturkan betapa ia sulit meninggalkan perasaan yang ia bangun sendiri. “Seperti Qaiz kepada Layla,” katanya.
“Siapa itu? Anak mana?” 
Ia tak menjawab, malah berkemas. Ia pergi meninggalkan saya begitu saja. Entah marah atau ngambek (apa bedanya? Hehe…) tapi sejak pergi tanpa pamitnya itu, saya tak mendengar kabarnya lagi. Di media sosial—yang kata teman dengan mudahnya ‘menemukan’ teman ygtak pernah ia bisa sangka-sangka—La Cundekke tak berjejak. 
***
Musim politik bersemi. Semua berbunga-bunga, serupa janji yang bermekaran. La Cundekke muncul setelah sekian lama ia menghilang kayak ditelan bumi. Semakan ganteng saja ia. Kumisnya tipis klimis. Pinngirannya lurus seperti habis dimistar. Dandanannya kini manis pokoknya. Badannya juga sedikit menggemuk—tapi masih proporsional. Sekilas, ia tampak sukses. Setidaknya bisa diduga begitu.
Mungkin juga ia sudah menemukan subjek cintanya yang lain. Mungkin! 
“Ternyata mudah saja mencapai cinta!” kini suaranya lantang, penuh percaya diri.
“Hmm.. Iyakah?”
“Siapa (cintamu) kini?”
“Masih itu, tetap itu.”
“Baguslah. Akhirnya kamu disatukan juga.”
“Bukan begitu.”
“Maksudnya?”
“Saya sudah berhasil menaklukkan perasaanku sendiri. Saya cukup ‘menikmatinya’ sebatas pandang. Ia tak perlu tahu. … dan kini saya tidak segelisah dulu.“
Rasanya tak ada yang baru darinya. Kecuali percaya dirinya, La Cundekke sama saja sebelum ia pergi lama tak berkabar. 
“Begitu saja?!?"
“Akh, kamu tidak mencermati ceritanya!”
“Oh, iya, iya… “ Saya berlagak paham. Mengumpat juga saya dalam hati. Saya lalu teringat para pendebat yang ahli menghujat. Tiba-tiba saya seperti menemukan mereka semua dalam diriku.
“La Cundekke!”
(Tapi saya memuji ‘kesetiaanmu’ mempertahankan sesuatu yang justru tak mempedulikanmu!)
Selamat beristrahat, La Cundekke! Selamat menghibur diri ...

Ternate, 11 April 2018

Curah Gagasan a la FIB Unkhair

*** Banyak yang Harus Dilakukan (Catatan dari ‘Bacalefo’ Ormawa FIB) *** Kebajikan mesti dikabarkan agar tetap bisa ditularkan...